Wujud Sudah Terkikisnya Rasa Dendam melalui Nama Jalan Majapahit di Bandung

SUDAH tiga tahun lebih, papan Jalan Majapahit dan papan Jalan Hayam Wuruk tegak berdiri di Bandung. Tidak ada reaksi masyarakat terhadap kedua nama tersebut digunakan sebagai nama jalan. Apalagi jalan tersebut di lokasi strategis, dekat dengan kantor pusat pemerintahan Propinsi Jawa Barat, Gedung Sate.
Sebetulnya, sebelum diresmikan menjadi nama jalan di Bandung, tanggal 18 Mei 2018, tidak ada satupun nama atau bangunan yang namanya terkait dengan Kerajaan Majapahit. Hal itu karena stigma yang terpelihara ratusan tahun, ketika terjadinya tragedi Perang Bubat pada abad ke-14 masehi.
Cerita tentang Perang Bubat di masa lampaumeski secara bukti sejarah masih diperdebatkan membuat hubungan suku Sunda dan Jawa tak harmonis. Perang Bubat adalah perebutan pengaruh dan kekuasaan antara Kerajaan Majapahit di Jawa Timur dan Kerajaan Galuh (Pajajaran) di Jawa Barat. Sebagai penguasa Nusantara di masanya, Majapahit sangat sulit menduduki Kerajaan Galuh. Padahal kerajaan tersebut sangat berguna bagi Majapahit. Kerajaan di Sunda perlu mereka kuasai agar hasil bumi yang melimpah ruah yang mereka miliki dapat dipasarkan. Namun, ternyata menguasai Kerajaan Galuh bukan perkara mudah. Sebenarnya Hayam Wuruk sebagai penguasa Majapahit berniat mengawini putri Kerajaan Galuh, Dyah Pitaloka. Banyak penafsiran dari beberapa ahli terkait dengan maksud dan tujuan Hayamwuruk menikahi Pitaloka. Gajah Mada semula setuju dengan perkawinan itu, sebuah upaya mempersatukan Majapahit dan Sunda tanpa peperangan.
Ketika Raja Sunda Prabu Maharaja ke Majapahit, alih-alih diterima dengan pesta penyambutan, mereka menghadapi sikap keras Mahapatih Gajah Mada yang menghendaki putri Sunda sebagai persembahan. Pihak Sunda tak setuju dan bertekad perang.
Perang pun tak terelakkan. Pernikahan Hayam Wuruk dan Pitaloka pun batal. Histori soal Perang Bubat ini kemudian secara turun-temurun diwariskan ke anak-anak suku Sunda dan Jawa.
Gubernur Jawa Barat, M Ridwan Kamil yang saat peresmian nama jalan tersebut menjadi Walikota Bandung menuturkan, butuh proses agar para tokoh masyarakat untuk dapat menerima nama Majapahit dan Wayam Wuruk menjadi nama jalan.
Sehingga membutuhkan waktu para tokoh menerimanya. Di era saat ini, dendam akan masa lalu hendaknya dihapuskan. ”Bagi generasi muda dan mendatang, yang perlu ditumbuhkan ada semangat persatuan dan kebangsaan,” ujar Ridwan Kamil.
Jurnalis senior Budhana Kartawijaya yang mengikuti proses diterimanya nama Jalan Majapahit dan Hayam Wuruk mengukapkan alotnya pembahasan terkait hal tersebut. ”Beberapa tokoh memang keberatan. Namun akhirnya bisa menerima,” ujarnya.
Dan seiring dengan perlanan waktu, persoalan dendam masa lalu yang sebetulnya masih harus dibuktikan kejadiannya betul atau tidak, sudah mulai luntur. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti nama Mahapatih Gajah Mada bisa diterima sebagai nama jalan. (Jon)

BERITA REKOMENDASI