Bakmi Jawa Pak Ari, Gabungkan Kelezatan Ala Gunungkidul dan Klaten

Editor: Ivan Aditya

BAGI Anda pemburu kelezatan bakmi Jawa, tak lengkap rasanya jika belum mengunjungi warung yang satu ini. Terletak di tengah perkampungan, warung ‘jadul’ ini menyuguhkan cita rasa bakmi Jawa sesungguhnya. Tempatnya yang terpencil seolah mengajak siapapun untuk kembali mengenang romantisme tempo doeloe sambil menikmati kelezatan bakmi Jawa ditemani pemandangan indah Bukit Prambanan.

Seperti pemiliknya, warung ini diberi nama Bakmi Jawa Pak Ari. Terletak di Pereng Wetan Prambanan Sleman, hanya dalam waktu 40 menit perjalanan dari pusat kota Yogyakarta siapapun akan dapat sampai ke tempat ini.

Warung ini telah ada di sini sejak tahun 2019. Tempat dimana warung ini berdiri merupakan rumah dari leluhur sang pemilik, Ari Wibowo.

Ari Wibowo mengungkapkan, Bakmi Jawa Pak Ari sebenarnya telah ada sejak tahun 2017. Dengan nama yang sama, warungnya dahulu terletak di kawasan Prambanan di jalan raya Yogya – Solo.

“Dulu memang pernah ada di Prambanan, namun sejak dua tahun lalu pindah ke sini. Alasannya cuma satu, ingin melestarikan resep leluhur tentang bakmi,” kata Ari Wibowo di warungnya.

Menggabungkan Bakmi Jawa Gunungkidul dan Klaten

Ari Wibowo mengaku selama ini memang gemar berinovasi cita rasa makanan, khususnya bakmi. Baginya ‘bermain’ resep bakmi sangat menantang. Ia ingin mencoba menghadirkan Bakmi Jawa yang mana nantinya pecinta kuliner akan selalu mengenang menu special itu sebagai olahan seorang Ari Wibowo.

“Saya dari dulu senang berinovasi dengan bakmi, selalu ingin menyajikan kejutan yang berbeda setiap menunya. Jika bisa berhasil menemukan cita rasa Bakmi Jawa baru, puas rasanya,” kata pria berumur 41 tahun tersebut.

Ia pun mengaku Bakmi Jawa Pak Ari saat menempati warung lama di Prambanan dan ketika pindah di Pereng Wetan jauh berbeda. Ini juga merupakan hasil dari inovasi rasa yang selalu dilakukannya.

Bakmi Jawa Pak Ari memiliki kelezatan berbeda dari bakmi-bakmi Jawa yang selama ini telah ada. Dari tekstur mie saja sudah berbeda, ditambah kuah yang sangat terasa kaldu ayamnya dengan telur bebek hasil peliharaan alias bukan bebek petelur.

Sedikit rahasia diungkapkanya, Bakmi Jawa Pak Ari bisa sangat menggoda lidah karena ia memadukan antara kelezatan Bakmi Jawa ala Gunungkidul dan Klaten. Menurutnya Bakmi Jawa Gunungkidul menonjolkan cita rasa asinnya, sedangkan buatan Klaten lebih menyajikan kesegaran kuahnya.

“Dua unsur itu yang coba saya gabungkan. Jadi Bakmi Jawa Gunungkidul saya pakai, Bakmi Jawa Klaten juga saya pakai. Akhirnya jadilah seperti sekarang ini,” kata Ari Wibowo.

Mie Olahan Leluhur

Beda dengan kebanyakan bakmi Jawa yang ada, olahan di warung ini menggunakan minyak jagung yang membuat cita rasa kian lezat. Selain itu mie sebagai bahan dasar Bakmi Jawa juga ia buat sendiri.

“Kami merupakan keluarga pembuat mie. Jadi mie di sini dibuat sendiri, yang pasti sehat dan tanpa pengawet,” ujarnya.

Mie lezat resep turun temurun tersebut diolah dengan tepung terigu, tepung tapioka, telur, garam yang dicampur dengan air. Hasilnya mie dengan rasa alami tercipta memperkuat kenikmatan Bakmi Jawa Pak Ari.

Dalam sehari sekitar 70 – 100 porsi bakmi Jawa bisa Ari Wibowo sajikan bagi pembeli. Sekitar 6 kg mie dan 3 kg ayam setidaknya dibutuhkan dalam olahan Bakmi Jawa Pak Ari setiap harinya.

Satu porsi bakmi Jawa akan diharga Rp 20 ribu. Tak hanya bakmi godog, tersedia pula bakmi goreng, nasi goreng, capcay maupun rica-rica ayam.

Di warung ini Ari Wibowo mempekerjakan sekitar 5 orang juru masak yang telah didiknya secara langsung. Bahkan jika sedang ramai, Ari Wibowo tutur turun tangan mengolah bakmi Jawa.

Warung Bakmi Jawa Pak Ari buka setiap  hari pukul 11.00 – 22.00 WIB. Warung ini jadi langganan beberapa pesohor Yogya

sebut saja musisi Hadi Soesanto (HaSoe), pegiat sepeda Thowil hingga desainer kondang kota ini Listyani Darma. (Ivan Aditya)

BERITA REKOMENDASI