Digali dari Prasasti Candi Borobudur dan Prambaban, IGC Kenalkan Empat Makanan Istimewa

Pada acara Gastronosia, pemaparan tentang budaya makan dan makanan disampaikan oleh Riris Purbasari dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah. Dalam paparannya, Purbasari menggambarkan bagaimana perpaduan relief dan prasasti menunjukan keragaman bahan dasar makanan dan wujud makanan yang telah diadopsi dari masa – ke masa. Ia mencontohkan Prasasti Alasantan dan Relief Candi Borobudur menunjukan referensi yang dipakai dalam menentukan makanan yang direkonstruksi.

Adapun rekonstruksi makanan disampaikan oleh peramu makanan handal, yakni Sumartoyo. Ia menyajikan makanan antara lain, Rumbah Hadangan Prana (Glinding Daging Kerbau), Knas Kyasan (Kicik Daging Rusa), Klaka Wagalan (Ikan Beong Masak Mangut), dan Harang-harang Kidang (Rusa Bakar). Sebagai contoh wujud makanan, diketahui bahwa Kicik Daging Rusa berasal dari interpretasi pada Prasasti Mantasyih I (829 Saka / 907 M , Prasasti Parada II (865 Saka / 943 M), dan relief Borobudur.

Hadir dalam acara peluncuran Gastronosia adalah Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid. Dalam sambutannya, Hilmar menyambut baik upaya interpretasi pertama ini pada Candi Borobudur yang sudah dikenal oleh dunia untuk memudahkan upaya memperkenalkan Indonesia melalui budaya gastro-delicacy. Ia juga mengungkapkan Gastronosia merupakan program yang inovatif dan inspiratif.

“Gastronosia persembahan IGC ini sangat inovatif dan inspiratif. Inovatif karena mampu memperkenalkan budaya kuno dengan mendekatkan diri pada minat setiap manusia, yaitu makanan. Inspiratif karena seni tradisi diangkat lebih menarik dan mudah difahami oleh multi-generasi dengan menceritakan perpaduan konten verbal dalam prasasti dengan konten visual pada relief,” ungkap Hilmar.

BERITA REKOMENDASI