Keripik Jangkrik.. Kriiuukk Banget!

SELAIN biasa dijadikan sebagai pakan satwa, jangkrik ternyata dapat diolah menjadi keripik. Ketika dipadu dengan tepung dan sudah digoreng, rasa khasnya diyakini mempunyai banyak nilai gizi.

Warga kawasan Purwosari Gunungkidul, Aswindra Aji Kurniawan sejak tiga tahun lalu sudah menerjuni usaha pembuatan keripik jangkrik. Hanya saja sampai saat ini memproduksinya ketika ada pesanan saja. Selain menerapkan model 'gethok tular', ia juga banyak berpromosi seperti lewat medsos. Sebagian lagi sudah ada  yang dititipkan di kios oleh-oleh, toko batik dan kedai minuman kawasan Sleman dan Kota Yogya.

“Awalnya saya hanya ternak jangkrik dan hasil panenannya saya jual untuk pakan satwa seperti burung, ayam, ikan arwana dan beberapa reptil. Dalam perjalanannya, selain menyediakan jangkrik untuk pakan satwa ada juga yang kami buat menjadi keripik,” jelas Aji saat mengantar pesanan keripik jangkrik di Sleman, baru-baru ini.

Menurutnya, jangkrik yang digunakan untuk pakan satwa maupun keripik, umurnya antara 28 sampai 30 hari dihitung mulai telur menetas. Panenan ternak jangkrik rata-rata tiga hari sekali dengan jumlah total kisaran 40 kilogram. Paling banyak yang dijual untuk pakan satwa terutama beberapa jenis burung berkicau.

Sebagian lagi ada yang dibuat keripik yang dapat dijadikan camilan atau makanan ringan sehari-hari. Cara membuat keripik jangkrik pun cukup mudah. Awalnya, satwa jangkrik yang masih hidup dimasukan ke plastik bening  lalu ditempatkan di 'freezer' kisaran satu jam. Selanjutnya jangkrik yang sudah mati dicuci bersih, dikeluarkan kotoran-kotoran dari perutnya dan direbus.

Setelah itu disaring, ditiriskan atau dibiarkan beberapa saat. Selanjutnya digoreng menggunakan tepung berbumbu. Rasa dari keripik jangkrik yang dibuatnya, saat ini ada empat varian, yaitu pedas, gurih, keju dan lada hitam. Hasil akhirnya dikemas dalam plastik tebal dan diberi label. Kini konsumen keripik jangkrik paling banyak memburu rasa pedas dan gurih. (Yan)

 

BERITA REKOMENDASI