Menikmati Sate Sekaligus Belajar Sejarah di Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring

Editor: Ary B Prass

KENDAL, KRJOGJA.com– Sate Kambing menjadi menu kesukaan dan banyak ditemukan dimana saja, hampir di setiap kota ada dan jumlahnya banyak. Namun jika kita menikmati sate kambing sambil mempelajari sejarah hanya ada di Warung Sate Pak Dul Tjepiring.
Jika kita melihat sekilas tidak ada berbeda dari Warung Sate Pak Dul Tjepiring ini dengan warung sate kebanyakan. Menu yang disajikan juga hanya sate kambing, sate sapi dan gule dan juga ada gule kepala manyung baginyabg tidak duka sate serta aneka sate seperti sisi dan yang lainnya. Namun yang berbeda dengan warung lainnya adalah konsep dan suasana, jika masuk di dalam warung yang sudah berdiri sejak tahun 1946 ini.
Terdapat ornamen berupa foto-foto kuno terpajang rapi hampir di setiap sudut warung. Tidak hanya itu benda-benda antik juga dipajang pemilik warung untuk menambah kesan unik dan menarik. Warung dengan konsep museum mini ini mulai dikembangkan generasi ketiga warung Pak Dul Cepiring. Koleksi foto-foto kuno milik Ario Widiyanto sang pemilik warung, sengaja dipajang untuk mengenalkan sejarah Cepiring zaman penjajahan Belanda dan Jepang.
Masuk ke Warung ini kita akan disambut sejumlah barang antik dan vintage, deretan foto-foto sejarah mulai dari potret kota Cepiring di masa awal berdirinya pabrik gula di tahun 1838, masa jaya kolonial Belanda di tahun 1937, Foto pasukan Brigade Tijger dan Koninklijke Nederland Indies Leger/KNIL, foto awal masuknya pasukan Jepang ke kota ini, kemudian di sebuah sudut ruangan anda akan menemukan artefak botol  Genever terbuat dari terakota tahun 1714 bertuliskan Daniel Visser & Zoonen, Schiedam Opgericht 1714 dan Hulskampt&ZM&Molyn, Rotterdam.
Aryo yang juga pegiat pariwisata menjelaskan jika idak Cepiring merupakan pertemuan tiga bangsa yakni Indonesia, Belanda dan Jepang banyak sejarah yang tersimpan.
“Di sini selain menikmati hidangan Sate Kambing, Sate Sapi, Sea Food , Minum Kopi dan Teh ala pedesaan Jawa,  pelanggan juga dihibur  suasana kuno  dan bisa belajar sejarah kota Cepiring melalui benda antik dan foto-foto  yang sengaja dipajang untuk mengenalkan sejarah  di jaman penjajahan Belanda dan Jepang,” ujar Aryo.

BERITA REKOMENDASI