Agar Turis Tinggal Lebih Lama di DIY-Jateng, Ini yang Dilakukan BOB

MAGELANG, KRJOGJA.com – Lama tinggal turis di kawasan Jawa Tengah dan DIY bisa meningkat jika adanya potensi wisata yang ditawarkan. Pariwisata terintegrasi bisa menjadi solusi agar wisatawan lebih lama tinggal sehingga pendapatan sektor pariwisata lebih tinggi lagi.

"Setiap akses yang menghubungkan kawasan Yogyakarta International Airport (YIA), di DIY dan area Jawa Tengah harus memiliki potensi wisata yang bisa ditawarkan," kata Direktur Utama Badan Otorita Borobudur (BOB), Indah Juanita dalam siaran pers yang diterima KRjogja.com, (3/6/2019).

Indah mengatakan dengan Integrated Tourism Masterplan (ITMP) Borobudur, potensi wisata yang ada di sekitar YIA, di DIY maupun di Jawa Tengah dapat dimaksimalkan. Ujung-ujungnya adalah turis tinggal lebih lama.

Dengan kata lain, ITMP merupakan jembatan yang akan merajut program menuju pemanfaatan potensi yang ada secara optimal. Alasan ini pula yang membuat jalur Bedah Menoreh terpilih sebagai jalur dari YIA menuju Borobudur.

"Medannya cukup berat dan waktu tempuhnya lebih lama, tetapi dipilih sebagai yang utama karena, di sekelilingnya sudah ada simpul-simpul pariwisata. Banyak kerajinan dan objek wisata gua," kata Indah Juanita.

Indah mencontohkan lama tinggal wisatawan di Bali yang dapat mencapai empat hari. Hal itu bukan tanpa alasan. Sebelum membangun infrastruktur jalan di Bali, Kementerian PU dan Kemenpar sudah merancang ITMP di mana pola jalan yang ada dapat membuat wisatawan mengunjungi berbagai objek wisata dengan lama tinggal tertentu.

"Pola ini tidak hanya dibuat oleh agen perjalanan, tetapi harus dibuat dengan infrastruktur nyata, karena itu Kemenpar selalu menekankan terwujudnya ITMP. Jadi artinya jangan hanya bikin ITMP untuk wilayah Borobudur, Prambanan dan Jogja saja. Potensi-potensi wisata yang dimiliki oleh DIY dan Jateng juga harus masuk dalam ITMP yang direncanakan," kata Indah.

Menurut Indah, penelitian awal untuk membuat akses jalan juga harus disertai dengan penelitian potensi-potensi wisata yang ada di sekeliling jalan itu. Kemudian jalur jalan pun dibuat dengan banyak variasi aktivitas di mana secara berjenjang akan menampilkan potensi wisata baru yang sudah diteliti sebelumnya. Contohnya pusat kuliner gudeg atau pusat perbelanjaan suvenir.

Di dalam kawasan pariwisata, jalur-jalur jalan dibuat menarik sehingga membuat wisatawan betah. Pertokoan pun terlihat jauh banget dan membuat wisatawan malas jalan-jalan. Kalau di setiap sudut jalan ada tempat bersantai, pusat suvenir, pasti wisatawan sangat tertarik untuk jalan-jalan dan buang duit di situ. Ini lah yang dinamakan penjiwaan pariwisata,î kata Indah.

Indah menjelaskan DIY-Jateng harus memiliki titik simpul di setiap ruas jalannya. Artinya, ada rest area jalan tol, di situlah seharusnya terjadi penyebaran aktivitas pariwisata karena kegiatan masyarakat di sekeliling jalan itu. Hal ini juga berlaku bagi akses jalan tol di sekitar maupun di dalam DIYñJateng. Sebab simpul-simpul pariwisata itu akan menarik wisatawan keluar dari tol untuk mengunjunginya.

Dengan desain ITMP, Indah menjelaskan wisatawan yang berkunjung ke Borobudur dan wisatawan yang datang di YIA akan memiliki lama tinggal lebih panjang. "Karena dengan desain seperti itu, wisatawan jadi tahu jika melewati jalan itu dia akan bisa berkunjung ke mana saja. Jadi mereka sadar bahwa berwisata di DIY dan Jawa Tengah tidak cukup satu dua hari saja," kata Indah. (*)

BERITA REKOMENDASI