Lion Air Kalahkan Maskapai Terbesar di Dunia

JAKARTA, KRJOGJA.com  – Lion Air makin menancapkan tajinya sebagai pemain utama industri penerbangan tanah air dan dunia. Maskapai milik Rusdi Kirana yang kini menjabat Dubes Indonesia untuk Malaysia itu terus melebarkan kepak sayap bisnisnya dengan menambah rute penerbangan maupun jumlah armada.

Beberapa waktu lalu, Telegraph mengulas sepak terjang maskapai berlogo singa merah itu yang memesan 443 pesawat. Langkah itu membuat Lion Air menjadi maskapai yang memesan pesawat terbanyak. Akhir Mei lalu, Boeing mengirim pesawat jenis 737 Max edisi perdana kepada Lion Air.

Lion Air mengalahkan maskapai terbesar di dunia America Airlines yang hanya memesan 285 unit. Dalam ulasannya, Telegraph juga membeber maskapai lain yang memesan pesawat terbanyak. Di belakang Lion Air adalah United Airlines yang memesan 264 pesawat, Southwest Airlines (262), Delta Airlines (239), Emirates (223), dan Ryanair (192). Selain itu, ada pula Turkish Airlines yang memesan 168 pesawat, China Southern (168), Lufthansa (158), dan American Airlines (145).

Jumlah pemesanan itu menambah panjang daftar gebrakan yang dilakukan manajemen Lion Air. Pada 2011 lalu, Lion Air memecahkan rekor pemesanan dengan Boeing senilai USD 22 miliar. Nominal itu mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang Emirates. Padahal, Lion Air sempat mengalami tragedi pada Juli 2007 silam. Bersama beberapa maskapai dalam negeri, Lion Air dilarang melintas di Eropa.

Hal itu berkaitan dengan rendahnya regulasi dari otoritas penerbangan tanah air. Larangan itu baru dicabut pada Juni 2016 lalu. "Yang paling menarik adalah di luar Indonesia hanya ada sedikit kesadaran tentang betapa besarnya Lion Air dan pertumbuhan impresif yang mereka bukukan dalam tujuh tahun terakhir,” ujar analis senior dari OAG John Grant.

Dalam tujuh tahun terakhir, Lion Air memang menunjukkan pertumbuhan yang istimewa. Lion Air melipatgandakan jumlah kursi penerbangan dari 25,1 juta menjadi 48,7 juta. Selain itu, rata-rata waktu terbang hanya 1,5 jam. “Bagi Lion Air, pemesanan itu mencerminkan bahwa Indonesia adalah salah satu pasar yang bertumbuh paling cepat dalam perjalanan udara,” imbuh Grant.

Meski sudah berubah menjadi maskapai raksasa, Lion Air masih memiliki ambisi superbesar. Dalam wawancara dengan FT pada 2015 lalu, Rusdi Kirana mengaku sudah mengakuisisi lahan seluas 5.500 hektare di luar Jakarta. Manajemen akan membangun bandara pribadi di atas lahan itu. Sebab, Bandara Soekarno-Hatta dianggap sudah tak memungkinkan.

"Pasar di Indonesia sangat besar, tetapi kami tak memiliki kapasitas bandara yang mencukupi. Kami akan menghadapi kendala di birokrasi, tetapi saya optimistis presiden akan turun tangan jika kami menemui kendala mendapatkan lisensi. Itulah mengapa saya membeli lahan tersebut,” kata Rusdi.

Agresivitas Lion Air mengembangkan bisnis juga berdampak langsung terhadap sektor lain. Salah satunya adalah pariwisata. Sebab, selain terus menambah rute dalam negeri, Lion Air juga berekspansi ke mancanegara. (*)

BERITA REKOMENDASI