Mencicipi Sensasi Gudeg Manggar Sidat di Bantul

user
agus 26 Juni 2020, 18:45 WIB
untitled

BANTUL, KRJOGJA.com - Kuliner khas Yogyakarta, Gudeg ternyata terus berkembang hingga saat ini dengan berbagai kreativitas. Di Bantul, ada olahan gudeng menarik yang memadukan manggar (bunga kelapa) dengan sensasi ikan Sidat.

Adalah Andini pemilik Warung Sate Mbok Sabar di Jalan Parangtritis km 13, Bakulan Patalan Bantul yang memadukan kreasi gudeg tak biasa tersebut. Andini mulai mengkreasi gudeg dengan daging ikan Sidat sejak tahun 2017 lalu setelah sebelumnya mengolah jenis ikan sungai air tawar menjadi sate, tongseng hingga pepes.

Andini menceritakan kreasi Gudeg Manggar Ikan Sidat muncul saat ia mulai memasak berbagai olahan Sidat di warung miliknya. Karakter daging ikan Sidat yang khas perpaduan kenyal dan empuk menurut dia sangat pas untuk diolah menjadi berbagai masakan.

“Saya sudah mulai masak Sidat untuk sate, tongseng, kicik, gule sampai pepes sejak akhir 2016 dan ternyata banyak yang suka. Lalu saya mulai pikir kreasi baru, terpikirlah dibuat gudeg dipadukan dengan manggar, ternyata ya rasanya enak banyak yang suka juga. Biasanya kan ayam, telur atau paling daging ya yang jadi lauk, nah ini ikan Sidat,” ungkapnya ketika berbincang dengan KRjogja.com, Jumat (26/6/2020).

Tak ada yang berbeda antara memasak sidat dan gudeg biasanya. Bumbu yang digunakan Andini pun sama seperti cara memasak gudeg pada umumnya, meski bahan yang digunakan adalah ikan sidat yang lebih amis daripada daging ayam.

“Bumbunya sama seperti gudeg, cara masaknya juga sama. Ya bahan-bahannya bawang merah, bawang putih, ketumbar, salam laos dan gula. Bedanya ya yang dimasak manggar dan daging ayamnya diganti ikan sidat,” imbuhnya tersenyum.

Andini yang memasak bersama sang suami, Hendro Sarjono banyak menerima pesanan sejak hampir tiga tahun mengkreasi gudeg manggar Sidat. Pembelinya pun berasal dari berbagai daerah tak hanya di Jogja saja.

Kondisi ini membuat pasangan suami istri tersebut harus berburu sidat hingga ke beberapa daerah seperti Cilacap, Kebumen dan Boyolali. “Biasanya sebelum habis sudah pesan. Kadang dapat yang satu ekor 7 kilo, 9 kilo bahkan pernah rekor 19 kilo. Cukup sulit karena ini kan harus di sungai carinya, jadi fresh,” ungkap Sarjono menambahkan.

Sarjono mengatakan olahan ikan sidat ternyata memiliki penggemar tersendiri dari segala usia karena rendah kolesterol meski tinggi protein. Ide mengkreasi ikan sidat didapat ketika keluarganya menggemari mengkonsumsi ikan tersebut sejak lama.

“Jadi awalnya makanan kesukaan keluarga kami, terus coba dijual dan ternyata banyak yang suka, banyak yang cocok. Yasudah diteruskan sama istri dan dikembangkan jadi beragam masakan,” sambung dia.

Ketika dijajal, rasa ikan Sidat kreasi Andini dan Sarjono memiliki tekstur yang empuk dan sedikit kenyal. Perpaduan rasa yang manis dari gudeg membuat olahan ikan tersebut terasa sangat menarik di mulut. (Fxh)

Kredit

Bagikan